.com

Mengajari Anak untuk Membalas - Kebiasaan Buruk Orang Tua

f g+ t
Publikasikan :
Mengajari Anak untuk Membalas - Kebiasaan Buruk Orang Tua
Mengajari anak untuk membalas adalah salah satu dari 37 kebiasaan buruk orangtua. Sebagian orang tua akan menyuruh anaknya untuk membalas pukulan dari temannya.

Hal ini menciptakan sifat balas dendam dan kekerasan pada diri anak. Dan juga bisa membuat sang anak berpikir bahwa kekerasan adalah jalan keluar dari segala masalah. Jangan pula kaget akan kebiasaan anak yang sering membalas atau membalikkan ucapan yang kita sampaikan.

Jika kita ingin mengajari anak agar mengalah, lakukanlah dengan benar. Tidak hanya mengajarkan tetapi juga dengan menjelaskan alasan serta maksud bahwa sifat teman yang terus menyakiti teman lain itu kemungkinan karena tidak sengaja. Mengajari anak agar selalu mengalah tetapi tidak disertai alasan yang tidak baik itu kurang bagus. Sang anak bisa berpikir bahwa apapun situasinya, dia harus mengalah. Sifat ini berbahaya karena akan menciptakan sifat rendah diri, kurang percaya diri dan takut bersikap.

Mengajari Anak untuk Membalas - Kebiasaan Buruk Orang Tua

Mendidik anak agar tidak harus membalas akan membuat pengertian ke anak bahwa memberi maaf dan mengalah merupakan jalan keluar terbaik pada suatu pertemanan. Beritau juga bahwa mengalah merupakan sifat terpuji dan disukai orang banyak.

Yang Seharusnya Dilakukan


Kita harus bisa bersabar dan menganggapinya secara wajar, tidak perlu emosional dan berlebihan. Sampaikan kepada orang tua mereka bahwa anaknya sering berlaku agresif dan melakukan kekerasan terhadap anak kita.

Ajarkan kepada anak untuk menghindari teman-teman yang suka menyakiti. Atau memberikan anak pilihan dalam memilih teman dan berikan juga penjelasan akan konsekuensi yang akan diterimanya jika dia memilih teman dengan sifat tertentu.

Dari kedua ajaran untuk mengalah ataupun membalas. Ada ajaran yang lebih baik lagi yaitu dengan mengajari anak untuk bersifat Asertif, yaitu sifat agar anak bisa menyampaikan secara tegas bagaimana perasaannya atas tindakan temannya.

Contohnya sampaikan ke anak "Utarakan ke temanmu jika kamu tidak senang dengan sifatnya. Tidak perlu mengangis karena nanti malah dia makin suka menggodamu". Hal itu merupakan awal pembentukan pertahanan diri anak dalam menyikapi serangan. Teman yang bersifat agresif ketika menerima respon yang tegas dari lawan akan sedikit tidak berani dan akan mulai berpikir serta ragu untuk kembali berlaku agresif.

Bila sudah bisa tegas mengutarakan ke teman pengganggunya, maka anak akan berani untuk mengambil sifat selanjutnya. Contoh selanjutnya dia akan memilih, memilih teman yang baik dan tidak berlaku kasar. Jadi anak akan bisa mencari jalan keluar dari suatu masalah tanpa membalasnya dengan kekerasan.